Analisis Pilkada Yogyakarta – Seri II (14 Mei 2011)

Pemilihan kepala daerah Kota Yogyakarta merupakan pertaruhan besar bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Bagi PKS tentunya kemenangan di Kota Yogyakarta merupakan perwujudan eksistensi, partai ini di Provinsi DIY. Karena dari tiga pemilukada yang sudah berlangsung di Provinsi DIY, tidak ada satu pun yang dimenangi oleh PKS. Di Gunung Kidul, PKS hanya menjadi pendukung bukan pengusung dari pasangan Sumpeno-Badingah. Sementara di Sleman, PKS yang mengusung pasangan Hafid Ashrom-Sri Muslimatun juga harus menerima kekalahan. Begitu pula di Bantul, PKS yang mengusung Sukardiyono-Darmawan juga mengalami kekalahan.

Sementara hanya tinggal dua daerah yang belum mengadakan pemilukada yaitu Kulon Progo dan Kota Yogyakarta. Di Kulon Progo yang saat ini sedang berlangsung, PKS mengusung Mulyono-Ahmad Sumiyanto. Jika di dua daerah ini kandidat yang diusung oleh PKS tidak menang, maka di semua daerah di Provinsi DIY tidak ada satu pun kandidat PKS yang menang.

Bagi PAN, pemilukada Kota Yogyakarta merupakan pertarungan ideologis. Selain alasan historis kemenangan PAN di kota ini, juga di kota inilah Muhammadiyah lahir. Tentunya juga harus diingat bahwa yang diusung adalah Hanafi Rais, yang merupakan anak Amien Rais pendiri PAN dan juga manta Ketua PP Muhammadiyah. Walaupun Muhammadiyah dan PAN selalu menyatakan sebagai dua lembaga yang berbeda, tetapi tidak dapat diingkari bahwa secara sosio-historis keduanya mempunyai kaitan. Bahkan AM Fatwa menyebut, PAN merupakan hasil “proses ijtihad politik Tanwir Muhammadiyah yang merupakan forum musyawarah tertinggi di bawah Muktamar” (AM Fatwa, PAN dan Pembentukan Masyarakat Madani, Republika, 24 Agustus 1999, h. 6).

Kehadiran PKS rupanya mampu mengambil hati sebagian kader Muhammadiyah. Hal ini disebabkan oleh keringnya kegiatan keagamaan yang berkaitan keagamaan dan pemahaman keagamaan di kalangan warganya (Haedar Nashir, Manifestasi Gerakan Tarbiyah, 2006 h. 44-45). Menghimpitkan PKS dan Muhammadiyah membuat sebagian elit Muhammadiyah resah dan melihatnya sebagai pengeroposan ideologi di kalangan warganya.

Prosentase Pemilihan Suara PAN dan PKS

Dalam tingkat politik, penurunan suara PAN sangat mencolok. Pada tahun 2004 PAN di Kota Yogyakarta mendapatkan 52.954 suara dan turun menjadi 26.828 suara pada tahun 2009. Suara PKS juga mengalami penurunan walaupun tidak begitu besar. Pada tahun 2004 PKS di Kota Yogyakarta mendapatkan 24.488 suara dan turun menjadi 21.546 suara pada tahun 2009. Irisan basis antara PAN dan PKS yang semakin membuat kedua partai akan selalu saling berebut. Corak segmen pemilih PAN dan PKS hampir sama: Islam modernis, muda, terdidik, dan di wilayah perkotaan. Dengan hitungan seperti ini, Hanafi Rais dan Zuhrif Hudaya (jika berhasil mendapatkan tambahan partai pengusung) akan saling berebut suara.